Pages

Senin, 05 Maret 2012

SEPAK TERJANG MOBIL KIAT ESEMKA, KARYA ANAK BANGSA

          Jika kita berbicara mengenai kendaraan, itu sudah merupakan kebutuhan bagi seluruh masyarakat untuk mempermudah dalam meningkatkan waktu efisiensi dalam bekerja, khususnya sebagai sarana transportasi utama (dalam hal ini, merupakan kendaraan pribadi). Bagi beberapa masyarakat (mungkin mayoritas), kendaraan sudah mutlak menjadi sebuah kebutuhan tertier yang harus dimiliki. Yang paling banyak digunakan, khususnya untuk masyarakat yang sudah berkeluarga, mereka pasti memilih mobil sebagai pilihan utama, dikarenakan mobil dapat menampung satu keluarga, juga dikarenakan mobil merupakan kendaraan yang nyaman untuk berpergian (karena kendaraan yang tertutup dan aman dari lingkungan luar). Banyak sekali jenis mobil yang terdapat atau dijual di Indonesia. Namun, mayoritas jenis/merk mobil yang dijual di Indonesia ini adalah merk mobil dari luar negeri. Mayoritas mobil yang dijual atau bahkan dipakai oleh masyarakat berasal dari perusahaan mobil di Jepang, Korea, Malaysia, dan lain-lain. Hanya sedikit mobil yang merupakan hasil karya negeri sendiri, contohnya seperti mobil Timor yang dulu sangat terkenal sebagai mobil hasil buatan negeri kita sendiri. Meskipun menggunakan prototype dari mobil buatan luar negeri, tapi keberhasilan dan ketenaran penjualan mobil Timor di negeri kita sendiri sudah merupakan sesuatu yang patut di acungi jempol. Mengingat dulu hanya mobil Timor inilah yang namanya paling tersohor sampai keluar sebagai mobil karya negeri Indonesia ini. Namun, ketenaran dan keperkasaan mobil Timor mulai berangsur mengerucut, dikarenakan peristiwa “krismon” atau krisis moneter tahun 1998. Meskipun sampai sekarang “nama” mobil Timor tersebut masih tetap ada (masih ada yang memakai mobil ini), tetapi ketenarannya sudah tidak setangguh dulu lagi. Sebenarnya, sebelum proyek mobil Timor ini dibuat, salah satu anak bangsa kita yaitu Bapak BJ Habibie, juga pernah membuat dan mengarsiteki prototype mobil buatan negeri sendiri, proyek itu bernama Maleo. Proyek Maleo tersebut mencanangkan teknologi baru pada masa itu, yaitu gabungan dari mesin 2 tak dan teknologi injeksi bahan bakar. Hebatnya lagi, proyek ini akan menggunakan 80% komponen lokal, dalam artian mayoritas “rasa” mobil ini akan memakai “cita rasa lokal”. Jika saja proyek ini jadi untuk diteruskan, dipercaya kedepannya mobil Maleo ini akan mempunyai prospek yang bagus dan membanggakan sekali tentunya sebagai hasil karya anak bangsa Indonesia. Sayangnya, proyek Maleo ini terhenti dikarenakan dana yang akan dipakai untuk merealisasikan proyek ini tersedot oleh proyek mobil nasional Timor. 


          Tentunya, kreativitas anak bangsa dalam keinginan untuk membuat mobil ciptaan negeri sendiri tidak lah padam. Terbilanglah, di sebuah bengkel mobil yang terletak di daerah Klaten, Jawa Tengah, bernama “Kiat Motor” yang dimiliki oleh seseorang bernama Sukiyat. Bengkel yang sudah berdiri sejak tahun 1978, yang awalnya merupakan bengkel vespa, dan akhirnya beralih menjadi bengkel mobil. Bengkel tersebut sama saja dengan bengkel mobil lain pada umumnya, tidak ada yang terlalu mencolok, kecuali situasi bengkel tersebut yang selalu ramai pengunjung yang ingin memperbaiki mobil maupun aktivitas lainnya. Ditambah, bengkel tersebut memang sering menjadi tempat magang bagi siswa-siswi SMK yang berasal dari daerah sekitarnya. Bermula dari aktivitas sang pemilik bengkel, Sukiyat bersama para siswa SMK yang sedang magang disitu, memodifikasi mobil-mobil dari bentuk standar-nya menjadi mirip dengan mobil bentuk jenis lain, dan berbagai kreatifitas lain yang dilakukannya dalam memodifikasi mobil. Waktu itu tahun 2007, Sukiyat didatangi oleh Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan pada Kementerian Pendidikan Nasional, Joko Sutrisno. Sukiyat diajak untuk bekerja sama dalam suatu proyek perakitan mobil, dengan syarat mobil tersebut dirakit bersama siswa-siswa SMK. Inilah awal mula perjalanan panjang proyek mobil Esemka. Sejak saat itu, bengkel “Kiat Motor” milik Sukiyat itu tidak pernah sepi dari aktivitas-aktivitas perakitan mobil tersebut, dan terdapat sebanyak 20 SMK dari berbagai pulau Jawa yang menitipkan delegasi mereka untuk magang di bengkel tersebut. Pada tahun 2011, secara resmi proyek mobil Kiat Esemka ini dibuat. Adalah SMKN 2 Surakarta dan SMK Warga Solo yang merakit mesin dan blok mesin, kemudian ada SMKN 1 Jakarta yang membuat komponen mesin. Perlu diketahui, komponen yang terdapat dalam mobil ini sebesar 80% berasal dari dalam negeri. Dalam perakitan mobil Kiat Esemka ini, tentu juga menghadapi berbagai kendala, yakni pembuatan yang cukup lama dikarenakan ada beberapa bagian mobil yang harus dibuat sendiri atau dibeli, dan pada akhirnya perakitan mobil ini selesai selama 2,5 bulan. Mobil berjenis sport utility vehicle (SUV) dengan warna dasar hitam, berbahan bakar bensin, dan memiliki kapasitas 1500 cc dengan 4 silinder ditambah bahan bakar injeksi (multi point injection) itu akhirnya lahir dengan nama KIAT ESEMKA (menggunakan nama depan yang berasal dari nama bengkel tempat mobil tersebut “dilahirkan”, yakni “Kiat Motor”). Tentunya hal ini merupakan kebangaan tersendiri bagi warga Solo, atas berhasilnya warga mereka merakit sebuah mobil buatan negeri, khususnya Wali Kota Solo, Joko Widodo. Rasa bangga mendalam itu tercermin, dengan Jokowi (panggilan akrab Joko Widodo) yang langsung mengganti mobil dinasnya yang lama yakni Toyota Camry, dengan mobil Kiat Esemka ini, sekaligus untuk mempromosikan mobil ini ke seluruh warga Solo maupun se-antero Indonesia.


          Meskipun dalam upayanya untuk menjadikan Kiat Esemka ini menjadi proyek mobil nasional terdapat banyak kendala-kendala, seperti masalah uji kelayakan, gagalnya uji emisi dan gas buangan, sampai pada suatu klaim yang menyatakan bahwa desain Kiat Esemka meniru desain mobil China bermerk Foday, tetapi perlu kita beri apresiasi yang sangat penuh atas lahirnya mobil Kiat Esemka ini. Mengingat mayoritas masyarakat memakai mobil yang berasal dari luar atau bermerk luar punya. Pasti ada beberapa masyarakat yang mulai berpikir, mengapa Negara-negara luar bisa memproduksi mobil dari Negara mereka sendiri ? bahkan sampai di import. Jika Negara lain bisa, mengapa kita tidak ? Hal inilah yang sepertinya memacu kreatifitas terpendam yang sebenarnya dimiliki oleh anak bangsa, untuk juga bisa “menghasilkan” seperti Negara luar. Dan dengan lahirnya kembali proyek mobil nasional Kiat Esemka ini, merupakan suatu pembuktian sekaligus menghilangkan komentar-komentar miring mengenai mobil nasional yang tidak mampu bersaing di negeri sendiri dengan mobil buatan luar. Kita semua pasti yakin, proyek Kiat Esemka ini mempunyai prospek yang sangat baik kedepannya, jika saja Pemerintah benar-benar serius untuk merealisasikan Kiat Esemka ini lebih lanjut, dan mau menaungi hasil pembaharuan-pembaharuan selanjutnya dari Kiat Esemka. Semoga dengan adanya satu lagi pembuktian ini, suatu hari nanti otomotif dalam negeri dapat bersaing, bahkan menancapkan taringnya dalam dunia otomotif dunia, dan bisa menjejerkan namanya pada bursa otomotif top dunia bersama mobil-mobil luar yang sudah tersohor lebih dulu namanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar