Pages

Rabu, 13 April 2011

DAMPAK KENAIKAN HARGA BAGI PRODUSEN

Jika diperhatikan dan dirasakan dari masa lampau sampai sekarang, harga barang-barang dan jasa kebutuhan terasa harganya terus menaik, dan nilai tukar uang selalu turun dibandingkan nilai barang. Ada dua jenis dari kenaikan harga tersebut, kenaikan harga yang sifatnya sementara seperti momen hari raya (tidak terus menerus) dan kenaikan harga dari satu atau dua barang saja (seperti kenaikan harga cabai, BBM, dll). Kenaikan harga ini tentunya akan memberikan dampak bagi semua lapisan yang terlibat didalamnya, seperti contohnya produsen, juga pasti akan terkena imbasnya. Produsen adalah orang/badan yang berfungsi sebagai pihak yang menyediakan/menghasilkan barang/jasa. Contohnya seperti produsen pembuat kerajinan tangan, pembuat sebuah produk untuk masyarakat, dll.

Dampak kenaikan harga bagi produsen ini akan sangat terasa di bidang perusahaan manufaktur, yaitu suatu cabang industri yang mengaplikasikan peralatan dan suatu medium proses untuk transformasi bahan mentah menjadi barang jadi untuk dijual. Upaya ini melibatkan semua proses antara yang dibutuhkan untuk produksi dan integrasi komponen-komponen suatu produk. Kemudian, yang dibutuhkan untuk produksi tersebut merupakan suatu bahan baku, yang jika di pasaran harga bahan baku tersebut melonjak, maka sudah pasti industry ini akan kesulitan untuk membeli bahan baku yang berkualitas tinggi seperti biasanya. Bisa jadi, bahan baku tersebut dikurangi takarannya dari semula, karena tingginya harga bahan baku yang berkualitas tersebut, dan untuk menutupi kekurangan dari bahan baku yang masih kurang tersebut akan menggunakan bahan baku yang kualitasnya tidak seperti biasanya. Jika seperti itu, maka hasil dari produksi industry manufaktur tersebut tentunya tidak akan seperti biasanya, malah ada kemungkinan kualitasnya akan lain dari biasanya karena tidak terlalu banyak menggunakan bahan baku yang berkualitas tinggi seperti biasanya.

Contoh lain dari dampak kenaikan harga bagi produsen ini, seperti di bidang industry rumah makan (baik restoran, maupun warung-warung makan rumahan). Saya akan mengambil contoh di bidang rumah makan Padang contonhnya. Rumah makan padang dapat dikatakan sebagai produsen juga, dan seperti telah kita ketahui, mayoritas makanan pada rumah makan Padang tersebut pasti akan berbumbu pedas, dan bahan baku utama dari makanan tersebut tentunya adalah cabai. Baru-baru ini, seperti yang diberitakan di Televisi, harga cabai mengalami kenaikan yang cukup signifikan dan melonjak cukup tinggi (kita akan ter mind-set ketika harga cabai baru saja naik bulan-bulan lalu, meskipun sekarang harganya sudah mulai stabil kembali). Banyak di bidang industry rumah makan, salah satunya adalah rumah makan Padang, menyatakan keberatan atas naiknya harga cabai ini, karena bahan baku utama dari mayoritas masakannya menggunakan cabai. Diantara para industry rumah makan Padang, ada yang mengatakan “jika biasanya memakai banyak cabai (beberapa kg) dalam semua masakan-masakan kami, kini dengan naiknya harga cabai tersebut terpaksa kami kurangi takarannya. Jadi sudah pasti kualitas hasil masakannya tidak akan terasa seperti biasanya……”. Sudah jelas, bahwa kenaikan harga ini tentunya akan sangat berdampak negative bagi para produsen. Jika pendapatan yang dihasilkan lumayan tinggi, maka para produsen tersebut tentunya tidak perlu khawatir akan naiknya harga barang ini. Tetapi, jika minim pendapatan, maka naiknya biaya produksi tersebut pada akhirnyta merugikan produsen, mungkin sampai-sampai ada produsen yang enggan untuk meneruskan produksinya, dan mungkin bagi perusahaan yang besar masih bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Tetapi, untuk para pengusaha kecil ??? jika tidak sanggup mengikuti kenaikan harga ini, maka yang akan terjadi adalah terhenti total produksinya, yang dapat dikatakan bangkrut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar